Fenomena Cutting Sticker di Indonesia dan Pengaruhnya Terhad

Fenomena Cutting Sticker di Indonesia dan Pengaruhnya Terhadap Generasi Muda

posted by Custom on April 4, 2013

Cutting Sticker sudah cukup lama beredar di Indonesia. Anda bahkan dapat menemukannya di pinggir-pinggir jalan, dengan begitu banyak desain digelar di sana, yang kebanyakan meniru desain-desain logo perusahaan atau kelompok di luar negeri. Ya memang masyarakat kita sangat terampil dalam keahliannya meniru pola yang diberikan oleh dunia luar. Dan sebenarnya tidak hanya di cutting sticker saja, tetapi di sebagian besar objek kehidupan, ada banyak hal yang telah kita serap begitu saja dari dunia luar, tanpa melakukan perubahan yang berarti. Hal-hal seperti kaos sablon, juga seringkali mengadopsi gaya, tulisan, gambar, logo dari dunia barat yang bahkan tak kita mengerti. Sebagian dari yang kita adopsi itu pun terbukti tak semuanya bagus, namun kita terus melakukannya. Meniru dan mewujudkan sebaik aslinya jika memungkinkan.

Namun sebenarnya kemampuan ‘meniru’ ini bisa menjadi aset yang mengagumkan jika kita mau menggunakannya untuk membuat perbedaan. Jika kita mau menggunakannya bukan untuk meniru, tapi untuk berkreasi dan menghasilkan karya-karya baru. Menerapkan desain-desain kita sendiri, berteriak dengan bahasa kita sendiri. Sayangnya, masyarakat Indonesia, terutama yang terdampar di tingkat pendidikan yang paling rendah, tidak punya pilihan selain meniru, menjiplak, dan mengikuti pola yang ada, demi agar dapat bertahan hidup di negeri yang meski semakin jaya, tapi juga semakin bergelut dengan kesulitan ekonomi ini. Mereka memutuskan untuk tidak ikut ambil pusing dan ikut menjual saja cutting sticker yang memuat logo-logo dan tulisan ala Amerika itu di pasaran, tanpa terlalu memikirkan apa gambarnya dan apakah gambar itu memberi pengaruh tertentu kepada masyarakat yang membelinya.

Seharusnya, hal-hal seperti ini lebih dipikirkan, dicari, diselami, dipikirkan, direnungi, dan dicari asal muasalnya, serta apakah bisa disaring demi mengambil yang positif dan meniadakan yang negative, demi menyelamatkan generasi bangsa, secara karena para penyuka sticker pun kebanyakan adalah anak muda. Dan kadang-kadang mereka kurang begitu diskriminatif jika menyangkut pesan. Mereka cenderung menyerap semua pesan yang beredar di sekitarnya dan terpengaruh oleh semuanya.

Nah menjadi tugas kita yang lebih dewasa, atau lebih tua, atau lebih berpendidikan, atau lebih makan asam garam kehidupan dan mengetahui betapa buruknya pengaruh media komunikasi bagi orang muda, untuk memutuskan, apakah pesan dan berita yang mereka terima, atau mereka elu-elukan lewat cutting sticker itu cukup positif, atau malah membawa mereka pada pemahaman yang kurang baik? Ini memang masalah yang kecil kelihatannya, dan bahkan tak berarti, karena tak begitu nampak kerusakan yang terjadi, namun, ada baiknya jika kita menoleh sejenak ke beberapa cutting sticker yang biasa terpajang di jalanan, apakah mereka sudah memberikan pesan-pesan yang positif, atau lebih banyak gambar tengkorak, kebencian, kenakalan, dan kata-kata yang tidak sopan yang tertoreh pada cutting sticker tersebut? Rasanya, dengan semakin canggih peralatan cutting sticker yang bisa diperoleh di Indonesia, kita harus mulai memikirkan untuk membuat dan menjual, cutting sticker dengan pesan yang lebih positif, membangun, dan mengamankan masa depan generasi muda kita.